reverieJanuary 29, 2007 1:39 am

from
“danse hongroise n°6”
to
“bohemian melody”

the riddleJanuary 24, 2007 6:56 am

i recognize that jacket!

it led to this absurd feelings
is this just a pseudo-happiness?
(i treasure it though)

trash canJanuary 22, 2007 3:44 am

he’s sick

reverieJanuary 19, 2007 5:37 am

udah deh
TABRAKIN AJA . . .

reverieJanuary 17, 2007 8:18 am

if only i can do something to stop it.

Bolo KurowoJanuary 16, 2007 12:11 pm

vnot says”dulu gw percaya banget ma lagu ini”
i says”wakak kak kak”

Bolo KurowoJanuary 5, 2007 5:39 am

  • Tulisan ini adalah sebuah upayaku untuk selalu mengingat kebaikan orang yang sangat berjasa bagi hidupku karena telah menemaniku di saat-saat sulit sehingga membuatku untuk selalu bangkit dari keterpurukanku dan karenanya aku menulisnya dengan hati. Ia adalah salah satu orang dari segelintir orang yang di hadapannya aku nyaman meneteskan air mataku.

“Mami”

Aku terbaring di tempat persembunyianku ketika jantungku terus saja berdegup kencang Waktu terasa berjalan sangat lambat sekali. Kadar gugupku saat itu sudah tak terukur lagi. Saat itu adalah hanya beberapa jam menuju tanggal 11 Agustus 2006. Hari ketika masa depanku ditentukan, hari yang mungkin (aku takut bila terlalu yakin) merupakan awal dari kemerdekaanku. Aku terlalu gelisah melewati detik demi detiknya. Aku tidak tahu lagi harus berbuat apa. Dalam lubuk hatiku aku sangat muak sekali dengan perasaan gelisah ini. Aku ingin mengakhirinya. Tapi aku tidak bisa. Tiba-tiba aku merasa seperti mengetahui bagaimana cara mengatasi rasa yang memuakkan itu. Ya! Aku ada ide. Aku berusaha mengatasi kegelisahanku itu dengan cara mengirim pesan singkat ke mami, ya mami adalah orang yang akan selalu ada di saat aku membutuhkan. Aku berharap mami akan dapat menghiburku dengan pesan singkat balasannya seperti yang biasa ia lakukan. Ternyata yang terjadi justru di luar dugaanku. Benar-benar di luar dugaan dan harapanku. Mami saat itu justru menawarkan sebuah tawaran yang aku sendiri tidak berani memimpikannya karena aku takut merepotkan. Bukan-bukan! Bukan sebuah tawaran, karena faktanya saat itu adalah ia justru meminta izin tentang apakah aku keberatan bila ia menemaniku menunggu tibanya saat “Pertempuran terakhir” itu. Aku berteriak kegirangan dan seketika perasaan galau yang kualami mulai memudar. Aku rasa kesuksesan yang terjadi keesokan harinya adalah berkat gabungan doa orang-orang dekatku, penguasaan materiku dan tentunya dukungan mami.

Kemudian aku tersadar kembali bahwa untuk ke sekian kalinya, mami membantuku melewati masa-masa sulitku. Aku teringat jauh ke belakang saat aku, dalam keadaan dan situasi yang memaksa, berada dalam “Tempat Pengasingan”, sebut saja “Tempat Pengasingan A” karena akan ada “Tempat Pengasingan”- “Tempat Pengasingan” lainnya dalam kisah hidupku. Saat itu aku terlalu sedih, sangat sedih sampai aku tidak bisa melupakannya meskipun aku berusaha untuk melakukan penyangkalan dengan menyebutnya sebagai tempat menghabiskan masa liburan. Aku tidak habis pikir mengapa ia selalu meluangkan waktunya untuk mengunjungiku di tempat yang jauh dan terpencil itu. Ia selalu datang dengan materi-materi yang sangat menghiburku – Ia adalah teman terdekatku dan tentunya sahabat baikku sehingga ia adalah orang yang paling tahu apa yang bisa membuatku tersenyum. Ia juga rela menghabiskan sebagian waktunya menemaniku di tempat yang sangat tidak menyenangkan itu sementara temanku yang lain lebih memilih untuk pergi ke tempat lainnya. Aku tidak menyalahkan mereka, aku justru sangat memahami mereka. Tapi apa yang dilakukan mami benar-benar sangat “mengerikan”. Ia sangat tulus sekali. Ia sangat mengerti saat itu aku sangat membutuhkan seorang teman. Aku juga sangat menghormati dan berterima kasih pada orang tua mami karena telah mengizinkan anaknya berulang kali mengorbankan waktu dan dirinya untukku, suatu perbuatan yang aku pikir tidak akan dilakukan oleh para orang tua lainnya pada situasi dan kondisi yang sama.

Ketika aku akhirnya berhasil keluar dari tempat itu untuk kemudian terdampar di “Tempat Pengasingan B”, mami sekali lagi dengan senang hati bolak-balik ke tempat itu untuk mengunjungiku dengan materi-materi yang menghiburku dan bahan-bahan menarik untuk didiskusikan. Saat itu situasiku tidak seberat yang kuhadapi saat berada di “Tempat Pengasingan A” jadi aku bisa sedikit rileks karenanya. Satu-satunya hal yang tidak aku ingin lupakan ketika aku melewatkan waktu di dua tempat yang sangat traumatis bagiku itu adalah kehadiran mami. Jika saja mami tidak hadir saat itu, niscaya kedua tempat dan peristiwa itu sudah aku hilangkan dalam ingatanku, suatu hal yang aku rasa perlu dan selalu aku lakukan untuk menjaga kesehatan psikologisku.

Apapun itu, yang paling mengharukan adalah ia selalu merasa bahwa apa yang ia lakukan bukanlah sesuatu yang besar. Padahal jelas-jelas apa yang ia lakukan sangat berarti bagiku. Bagi hidupku. Bagi masa depanku. Dari dirinyalah aku menemukan hakikat sebenarnya dari seorang sahabat sejati. Ia akan selalu memberi dengan tulus tanpa merasa telah melakukan sesuatu, apa lagi meminta balasan.

Sampai kapan pun aku rasa aku tidak akan bisa membalas kebaikannya. Satu-satunya yang bisa aku lakukan hanya berdoa semoga Tuhan membalas segala kebaikannya. Dan aku yakin Tuhan Pasti membalas segala kebaikannya berlipat ganda. Amien.

Terima kasih mami. I Love U